Minggu, 16 Januari 2011

Peranan Bahan Organik dalam Mengatasi Pencemaran

Pendahuluan

Pengendalian pencemaran lingkungan merupakan program keamanan pangan nasional yang harus segera dilaksanakan, terlebih lagi akan memasuki era perdagangan bebas. Produk-poduk pertanian dituntut mempunyai standar mutu yang baik serta aman dikosumsi. Menurut Subowo et al. (1999) adanya logam berat dalam tanah pertanian dapat menurunkan produktifitas pertanian dan kualitas hasil pertanian selain dapat membahayakan kesehatan manusia melalui konsumsi pangan yang dihasilkan dari tanah yang tercemar logam berat tersebut. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa pupuk fosfat mengandung logam berat Pb antara 5 – 156 ppm (Setyorini et al. dalam Kurnia et al.) dan 7 ppm Cd untuk tanah netral. Apabila pupuk tersebut digunakan secara terus menerus dengan dosis dan intensitas yang tinggi dapat meningkatkan Pb dan Cd yang tersedia dalam tanah sehingga meningkatkan serapan Pb dan Cd oleh tanaman.
Untuk meningkatkan hasil pertanian penggunaan pupuk tidak dapat dihindari. Petani-petani didaerah semakin banyak yang menggunakan obat-obatan pertanian dengan harapan dapat meningkatkan hasil produksinya yang maksimal tanpa mempertimbangkan akibat yang ditimbulkan pada tanaman dan lingkungan sekitarnya. Petani didaerah Brebes misalnya, sebagai salah satu pusat produksi bawang merah di Jawa Tengah, cenderung menggunakan pupuk dan pestisida secara berlebihan. (Sumarni dan Rosliani, 1996). Secara bertahap pemakaian bahan agrokimia (pupuk dan pestisida) dalam system budidaya pertanian harus dikurangi, karena bahan agrokimia mengandung logam berat yang termasuk bahan beracun berbahaya (B3). Penggunaan bahan agrokimia yang tidak terkendali pada lahan pertanian terutama pada tanama sayur-sayuran berdampak negatif, antara lain meningkatnya resistensi hama atau penyakit tanaman, terbunuhnya musuh alami dan organisme yang berguna, serta terakumulasinya zat-zat kimia berbahaya dalam
tanah (sutamiharja & Rizal, 1985).
Logam berat terserap kedalam jaringan tanaman melalui akar, yang selanjutnya akan masuk kedalam siklus rantai makanan (Alloway, 1990). Logam akan terakumulasi pada jaringan tubuh dan dapat menimbulkan keracunan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan apabila melebihi batas toleransi. Di Indonesia, kadar residu pestisida yang terkandung dalam bahan pangan dan sayuran cukup memprihatinkan, Sayuran seperti wortel, kentang, sawi, bawang merah, cabe merah dan kubis dari berbagai tempat budidaya sayuran di Jawa Barat dan Jawa Tengah pada tahun 1987 diketahui mengandung residu yang melampaui batas maksimum (Gayatri, 1994). Moshman (1997) mengungkapkan bahwa akumulasi logam berat Pb pada tubuh manusia yang terus menerus dapat mengakibatkan anemia, kemandulan, penyakit ginjal, kerusakan syaraf dan kematian. Sedangkan keracunan Cd dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, kerusakan jaringan jaringan testicular, kerusakan ginjal dan kerusakan selsel
butir-butir darah merah.
Berdasarkan uraian diatas perlu adanya kajian mengenai kandungan logam berat berbahaya Pb dan Cd yang tersedia dalam tanah dan terserap oleh tanaman sayuran yang biasa dikosumsi oleh manusia sepertihalnya bawang merah, sebagai akibat dari penggunaan pupuk yang berlebihan. Dengan adanya informasi mengenai kandungan Pb Dan Cd dalam tanaman, diharapkan petani dapat mengurangi penggunaan pupuk yang berdampak negatif pada tanaman. Dengan demikian produksi tanaman yang maksimal akan didukung oleh kualitas yang baik serta aman untuk dikosumsi.


Pencemaran Logam Berat pada Tanah
Tanah merupakan bagian dari siklus logam berat. Pembuangan limbah ke tanah apabila melebihi kemampuan tanah dalam mencerna limbah akan mengakibatkan pemcemaran tanah. Jenis limbah yang potensial merusak lingkungan hidup adalah limbah yang termasuk dalam Bahan Beracun Berbahaya (B3) yang di dalamnya terdapat logamlogam berat. Menurut Arnold (1990 dalam Subowo et al. 1995), logam berat adalah unsur logam yang mempunyai massa jenis lebih besar dari 5 g/cm3, antara lain Cd, Hg, Pb, Zn, dan Ni. Logam berat Cd, Hg, dan Pb dinamakan sebagai logam non esensial dan pada tingka tertentu menjadi logam beracun bagi makhluk hidup.
Kandungan logam berat didalam tanah secara alamiah sangat rendah, kecuali tanah tersebut sudah tercemar. Kandungan logam dalam tanah sangat berpengaruh terhadap kandungan logam pada tanaman yang tumbuh diatasnya, kecuali terjadi interaksi diantara logam itu sehingga terjadi hambatan penyerapan logam tersebut oleh tanaman. Akumulasi logam dalam tanaman tidak hanya tergantung pada kandungan logam dalam tanah, tetapi juga tergantung pada unsur kimia tanah, jenis logam, pH tanah, dan spesies tanaman (Darmono 1995).
Logam berat memasuki lingkungan tanah melalui penggunaan bahan kimia yang berlangsung mengenai tanah, penimbunan debu, hujan atau pengendapan, pengikisan tanah dan limbah buangan. Interaksi logam berat dan lingkungan tanah dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu : a) proses sorbsi atau desorbsi, b) difusi pencucian, dan c) degradasi. Besarnya penjerapan logam berat dalam tanah dipengaruhi oleh sifat bahan kimia, kepekatan bahan kimia dalam tanah, kandungan air tanah, dan sifat-sifat tanah misalnya bahan organik dan liat (Cliath dalam Connel & Miller 1995). Pemasok logam berat dalam tanah pertanian antara lain bahan agrokimia (pupuk dan pestisida), asap kendaraan bemotor, bahan bakar minyak, pupuk organik, buangan limbah rumah tangga, industri, dan pertambangan. Selain itu sumber logam berat dalam tanah berasal dari bahan induk pembentuk tanah itu sendiri, seperti Cd banyak terdapat pada batuan sedimen schales (0,22 ppm berat), Cr pada batuan beku ultrafanik (2, 980 ppm berat), Hg pada bauan sedimen pasir (0,29 ppm berat), Pb pada batuan granit (24 ppm berat) (Alloway 1990). Pestisida juga memberikan masukan logam berat ke dalam tanah. Serapan pestisida oleh tanaman tergantung pada dosis pemberian pestisida, jenis tanah, dan kemampuan tanaman menyerap pestisida.

Pencemaran Air
Pencemaran air terjadi pada sumber-sumber air seperti danau, sungai, laut dan air tanah yang disebabkan olek aktivitas manusia. Air dikatakan tercemar jika tidak dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. Walaupun fenomena alam, seperti gunung meletus, pertumbuhan ganggang, gulma yang sangat cepat, badai dan gempa bumi merupakan penyebab utama perubahan kualitas air, namun fenomena tersebut tidak dapat disalahkan sebagai penyebab pencemaran air. Pencemaran ini dapat disebabkan oleh limbah industri, perumahan, pertanian, rumah tangga, industri, dan penangkapan ikan dengan menggunakan racun. Polutan industri antara lain polutan organik (limbah cair), polutan anorganik (padatan, logam berat), sisa bahan bakar, tumpaham minyak tanah dan oli merupakan sumber utama pencemaran air, terutama air tanah. Disamping itu penggundulan hutan, baik untuk pembukaan lahan pertanian, perumahan dan konstruksi bangunan lainnya mengakibatkan pencemaran air tanah. Limbah rumah tangga seperti sampah organik (sisa-sisa makanan), sampah anorganik (plastik, gelas, kaleng) serta bahan kimia (detergen, batu batere) juga berperan besar dalam pencemaran air, baik air di permukaan maupun air tanah. Polutan dalam air mencakup unsur-unsur kimia, pathogen/bakteri dan perubahan sifat Fisika dan kimia dari air. Banyak unsur-unsur kimia merupakan racun yang mencemari air. Patogen/bakteri mengakibatkan pencemaran air sehingga menimbulkan penyakit pada manusia dan binatang. Adapuan sifat fisika dan kimia air meliputi derajat keasaman, konduktivitas listrik, suhu dan pertilisasi permukaan air. Di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, pencemaran air (air permukaan dan air tanah) merupakan penyebab utama gangguan kesehatan manusia/penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di seluruh dunia, lebih dari 14.000 orang meninggal dunia setiap hari akibat penyakit yang ditimbulkan oleh pencemaran air.
Secara umum, sumber-sumber pencemaran air adalah sebagai berikut :
1. Limbah industri (bahan kimia baik cair ataupun padatan, sisa-sisa bahan bakar, tumpahan minyak dan oli, kebocoran pipa-pipa minyak tanah yang ditimbun dalam tanah).
2. Pengungangan lahan hijau/hutan akibat perumahan, bangunan.
3. Limbah pertanian (pembakaran lahan, pestisida)
4. Limbah pengolahan kayu
5. Penggunakan bom oleh nelayan dalam mencari ikan di laut
6. Rumah tangga (limbah cair, seperti sisa mandi, MCK, sampah padatan seperti plastik, gelas, kaleng, batu batere, sampah cair seperti detergen dan sampah organik, seperti sisa-sisa makanan dan sayuran).

Penggunaan Bahan Organik

Degradasi tanah dan polusi air secara luas diakui sebagai lingkungan utama masalah mental. Kurang luas diakui adalah bahwa tanah dan air adalah saling berhubungan. Langkah yang diambil untuk memperbaiki tanah dapat meningkatkan kualitas air yang lebih baik dan kuantitas yang akan mengakibatkan penggunaan kompos. Kemudian bahan organik merupakan cara yang menguntungkan dalam membantu permasalahan ini.
Sebuah tanah yang sehat menyediakan sejumlah fungsi penting termasuk kemampuan untuk penyimpanan air dan nutrisi, mengatur aliran air, dan melumpuhkan dan menurunkan polutan. Kompos merupakan produk yang dihasilkan dari dekomposisi biologis limbah organik dikontrol ( seperti puing halaman,sisa makanan, kertas kotor, limbah kayu, biosolids dan pupuk). Kompos memiliki kemampuan untuk membawa kembali fungsi kritis, banyak iridasi memajukan perkotaan, yang telah kehilangan kemampuan mereka untuk menahan dan penyimpanan air, dan polutan mengikat.
Sama seperti retensi tutupan hutan telah diakui sebagai alat penggunaan lahan untuk mengelola kualitas volume air, sangat penting bahwa struktur tanah retensi dianggap sebagau alat di tanah menggunakan alat dan kontak peraturan. Karena biota-biota air seperti ikan bergantung pada kebersihan, air segar untuk bertahan hidup, mereka membutuhkan tanah-tanah yang sehat di daerah aliran sungai di atas mereka. Tujuan dari peningkatan kesehatan tanah yaitu untuk meningkatkan tanah asli sehingga lebih bersemangat keanekaragaman organisme yang berkembang. Sehat pertumbuhan tanaman akan dipertahankan, dan udara dan air yang akan diselenggarakan dan dipertahankan lagi.
Kompos memiliki kemampuan untuk mengikat logam berat, pestisida, herbisida dan kontaminan lainnya, mengurangi baik leacha mereka Mikroorganisme tanah yang mendukung kompos juga membantu memecah pestisida, fertilizer dan hidrokarbon. Efek mengikat ini dan bio-remediasi yang sama memungkinkan kompos untuk digunakan sebagai filter untuk air badai dan limpasan.

Pemberian cangkang kerang dapat mengurangi dampak pencemaran air. Cangkang kerang mengandung kalsium karbonat (CaCO3) dalam kadar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan batu gamping, cangkang telur, keramik, atau bahan lainnya. Hal ini terlihat dari tingkat kekerasan cangkang kerang. Semakin keras cangkang, maka semakin tinggi kandungan kalsium karbonat (CaCO3) nya. Kalsium karbonat (CaCO3) merupakan senyawa garam. Logam yang terkandung dalam air kebanyakan merupakan senyawa basa. Maka jika direaksikan dengan asam kuat seperti HCl dan ion logam yang terlarut dalam air dapat mengendapkan kandungan logam.



Daftar Pustaka
Charlena. 2004. Pencemaran Logam Berat Timbal (Pb) Dan Cadmium (Cd) Pada Sayur-sayuran, Bogor.
Bahtiar, Ayi. 2007. Polusi Air Tanah Akibat Limbah Industri Dan Rumah Tangga Serta Pemecahannya, Bandung.
Sudirja, Rija. 2008. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Sistem Pertanian Organik, Purwakarta.
Niswati, Zahida Arga., Safitri, Anis., Santoso Ichwan. 2010. Serbuk Cangkang Kerang sebagai Solusi Pencemaran Polutan Ion Logam Dalam Air, Ponorogo.
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://water.washington.edu/Research/Reports/soilsforsalmon.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar